The Prince of Macazar (Bag.3-4)



TIGA
Menjelang tengah hari, ruangan pekuliahan dipenuhi berbagai aktivitas yang sedang berlangsung. Dosen mempresentasikan sesuatu. Egata mendengarkan.

“Di pegunungan itu tinggal komunitas-komunitas…”

Egata menahan kantuknya sambil sesekali mencubit dirinya diam-diam.

“…Macazar…”

Lamunannya tiba-tiba buyar.

Tunggu! Apakah dosen kami baru saja menyebut nama Makassar?

Di layar putih itu terpampang nama Macazar. Hanya beberapa detik. Setelah itu, tulisan itu menghilang dan digantikan topic yang baru.

Macazar, ya? Bukan Makassar, pikir Egata.

Otomatis kantuknya hilang. Telinga serta seluruh inderanya dipusatkan ke depan menunggu Macazar disinggung lagi. Akan tetapi, hingga perkuliahan selesai, tidak ada lagi yang meenyinggung kata Macazar.

“Apa tadi katanya?”

Mahasiswa yang ditanyai oleh Egata mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tadi kurang konsentrasi.”

Macazar! M-a-c-a-z-a-r! Tidak apa-apa. Ini artinya Macazar itu nyata. Egata ingin menanyakan itu khusus kepada dosennya. Nanti, saat ada kesempatan untuk menemuinya dan bicara empat mata.

Egata kembali ke kamar. Setelah mengetik selama sekitar satu jam, dia bergegas kembali lagi ke ruang perkuliahan. Ketika melewati ruang perpustakaan, gadis itu segera masuk dan mengangkat setumpuk besar buku-buku yang diperlukan. Kemudian, hampir seluruh buku dibuka bersamaan. Selanjutnya, tangannya sibuk mencatat.
Sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu, Egata mulai berubah. Atau, suasana kampus itu yang berubah? Pemberontakan dalam dirinya mulai hilang. Hari-harinya tidak luput dari rasa jenuh, tetapi perasaan itu mulai hilang perlahan seiring rutinitasnya yang mulai padat dan semua itu diikuti tanpa absen.

Egata kini berambut pendek dan terihat sangat kaku dan dingin. Dia bahkan tidak sempat menyadari perubahan dirinya. Sungguh gadis periang itu telah tenggelam dalam kesibukan dan ketidakpeduliannya sendiri. dalam sekejap, dia menjadi robot milik dirinya sendiri dengan tidak yakin apa yang sebenarnya dicari olehnya.

Happy.

Lelaki itu menoleh padanya. Pria yang menarik! Sayangnya saat ini, di tengah kesibukan Egata yang tidak ingin diganggu, pria itu hanya seorang pengganggu. Huff!




EMPAT
Pria itu, Happy Hulu,  selalu bertanya, kamu kemana saja mengapa tidak ikut belajar? Mengapa tidak ikut ujian? Mengapa tidak mau melihat keajaiban sebenarnya yang tidak ada di sekelilingmu?

            Egata kesal jadi selalu menghindarinya. Egata juga mencari anjing peliharaannya. Anjing dari Jun, Jun yang manis. Egata mencari sambil menghindar dari Happy sehingga masuk ke sebuah ruangan sempit. Ruangan sempit yang memiliki tempat duduk dan kursi, juga makanan. Aneh sekali. apakah ini kantin? Tempat sekecil ini?

             Seseorang tiba-tiba memasuki tempat itu dengan bersiul-siul. Seorang perempuan. Egata tahu dia adalah teman satu kelasnya. Tetapi, Egata tidak pernah bicara dengannya. dia tidak pernah tahan berada di ruangan kelas. Siapa yang memilih sekolah ini? Jun! Siapa yang mengatakan sekolah ini penuh keajaiban dan petualangan? Jun. Lalu di mana dia sekarang? Pergi entah ke mana. Ke tempat yang tidak pernah bisa ditemukan ole Egata.

            “Hai!”

            “Hai”

            Dua orang masuk, mengambil makanan lalu menggesek kartu mereka ke mesin pembayaran.kemudian serombongan orang masuk. Wah, tempat ini akan penuh. Egata lalu melihat pria itu di antara mereka.

            Ah, pintu ke mana ini?"

            “Kamu benar-benar belum pernah ke mana-mana sejak kita datang ke sekolah ini?”

            “Apa yang mau di lihat di sini? Sekolah kecil, sumpek, dan aneh seperti ini apa yang mau di lihat?”

            “Kamu benar-benar tidak membuka hatimu berada di sini. Ini Negeri keajaiban!” bisiknya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan dengan penuh waspada.

            Apa? Egata mencoba mencerna kata-kata itu dalam benaknya. Makassar? Itukah maksudnya?

            “Aku berasal dari Macazar, negeri keajaiban. Suatu saat, aku akan mengajakmu ke sana.” Aku ingat kata-kata Jun.

            Ini Makassar? Egata tidak mengerti. Tidak ada yang mengatakan padanya bahwa inilah negeri Makassar, dan negeri penuh keajaiban. Di mana? Egata bingung.

            “Makassar. Aku tidak mengerti. Aku pernah dengar, tetapi semua yang kudengar terlalu indah.”

            “Karena kamu tidak ingin melihat. Kamu hanya ingin mengurung dirimu!”

`           Karef kini berdiri di sebelah Egata sementara rombongannya keluar dari pintu kecil di kantin itu. mau ke mana mereka?

            “Mau ke mana mereka?”

            “Nah, selama ini apa kamu pernah ingin tahu ke mana saja semua orang pergi?”

            “Ke mana?”

            “Hanya orang-orang yang percaya keajaiban yang dapat melihat Macazar. Dan, hanya orang-orang seperti itu yang didatangkan ke sekolah ini. Karena itu, sebagai komisaris selalu mengawasimu dan berpikir ada sesuatu yang salah denganmu."

            “A…APA?"

            “Coba LIHAT APA YANG TERDAPAT DI BALIK PINTU ITU!”

            Egata membuka pintu dan terkejut ternyata ada ruang terbuka yang luas di luar. Ditutupnya lagi pintu itu. “Yah, ternyata di luar ada ruang terbuka yang luas.” Egata mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh.

            “Apa lagi?” pancingnya dengan sabar.

            “Rumah-rumah.”

            “Apa lagi?”

            “Sudahlah. Aku lagi banyak tugas. Jangan pancing aku marah?”

            “ Untuk apa aku memancingmu? Kamu bukan ikan lho. Kamu temanku.”

            Mau tak mau Egata tersenyum. 

           “Apa lagi?” tanyanya.

            “Oke, biar puas. Pohon, rumah, taman, kerbau, kuda, da-nau….” Suaranya terbata karena tidak yakin dengan yang baru dikatakan oleh mulutnya sendiri. Benarkah aku baru mengatakan kuda dan danau? Iya, aku memang melihatnya tadi. Sejak kapan ada di sana? Egata menatap sang komisaris dengan tatapan menuntut penjelasan.

Komisaris nyengir kuda lalu menggeleng-geleng kepala. “Berarti kamu memang bisa melihat tetapi tidak mau melihat. Kalau orang yang tidak percaya keajaiban biasanya hanya akan melihat tembok kosong di balik pintu itu.”

            “Dari mana kamu tahu?’

            “Karena ini adalah Macazar. Negeri macazar.”

            “Makassar!” Egata mengulang-ulang nama itu dengan terbata.

            “Macazar. Bukan Makassar Gata. M-a-c-a-...”

            “Iya. Aku tahu. Sejak lama aku sudah memimpikan tempat ini.”

            Komisaris menarik tangan Egata pelan. Pintu itu dikuakkan sedikit lalu segera ditutup lagi. Ada suara ribut-ribut di luar. Suara ribut apa itu?

            Egata mengintip ke luar. Tiga orang sedang berjalan mendekat lalu seekor hewan cokelat melesat ke arah mereka. Dua orang segera bergabung dengan kelompok Egata yang masuk lagi ke ruangan dan seorang lagi berlari lalu menghilang ke balik tembok.

            “Itu tadi Bison?”

            Rasanya tidak percaya. Komisaris mendorong Egata keluar. Matahari bersinar keemasan dengan rumput dan danau kecil. Iya, itu danau dan rusa-rusa sedang minum di pinggir danau. Jerapah mencari makan di antara pepohonan.

            “Luar biasa.”

            Egata tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan terharunya.

            “Oh, Ibu. Ini benar-benar Makassar! Ini sungguh-sungguh Makassar yang diceritakan Jun  ibu! Aku tidak percaya kalau aku sudah berada di Makassar selama ini. Semua ada. Semua yang diceritakannya ada bu, hewan-hewan liar ini, angsa-angsa, matahari. Padang. Dan danau. Aku akan memotretnya dan mengirimkan kepada keluargaku.”

            Komisaris tertegun,”Kamu menangis?”

            “Maaf. Tetapi rasanya bahagia sekali karena aku telah menemukan Makassar. Tempat ini penting bagiku.”

            Komisaris terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu.

            Seekor anjing lewat mengejar seekor kelinci.

            Ah, itu anjingku.

            Kami mengejar. Lalu kami melihat tempat pemerahan susu sapi murni. Anjingku di sana dan duduk di bawah kaki seorang pria. Itu kepala sekolah. Komisaris memberi hormat lalu aku juga. Ternyata di sini kepala sekolah tidak galak. Aku bertanya mengapa anjingku begitu nyaman berada di tempat kepala sekolah. Lalu, kepala sekolah mengatakan bahwa anjing ini sangat senang pulang ke rumah.

            Aku menatapnya cukup lama. Ya, anjing ini memang berasal dari Makassar.

            Tetapi, Bagaimana mungkin kepala sekolah dapat menyuruh anjing ini melakukan sesuatu dan mengetahui namanya?

            Lalu Egata melihat topi yang dikenakan kepala sekolah. Lalu sebuah sweater rajutan.  Mirip dengan yang dikenakan Jun. Kepala sekolah menyapa lalu menyuruh mereka masuk untuk menemui pembuat topi dan rajutan itu, tetapi, di ruangan itu, Egata menemukan hal yang tak kuduga-duga.

              "Mengapa ini...? Ini kan?"

             Egata tertegun. Lidahnya terasa kelu menemukan foto Jun tertempel di dinding rumah itu. Apakah kepala sekolah dan Jun...? Apakah...?

            Banyak hal tentang Jun benar-benar ada di ruangan ini. Di atas lemari kaca itu ada semua kenangan yang dia perlukan untuk mengenangnya. Sketsa yang  Egata buat, kartu natal, surat, album foto, kaset, bahkan kuntum mawar yang sudah mengering. Gadis itu memenuhi dirinya dengan pertanyaan yang tidak bisa dia jawab sendiri.



            “Aku sudah menunggumu sekian lama."

             Egata mencari sumber suara. Saat itulah air matanya tidak mampu lagi dibendung.



#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Day 14

0 comments:

Post a Comment

About Me

Seorang ibu muda, guru, penulis
Powered by Blogger.